Manusia yang orisinal

Memahami fitrah manusia

Fitrah yang asli kita timbun dalam-dalam dengan keburukan sifat. Kejujuran kita timbun dengan kebohongan berlapis-lapis. Kemurahan kita simpan dengan kekikiran demi kekikiran. Cinta kita tenggelamkan dengan kebencian. Sifat pemaaf kita abaikan dengan setia memelihara sifat dendam.

Sifat dasar yang orisinil dari tuhan yang telah bersemayam alami, yaitu sejatinya diri atau diri yang asli

Apakah fitrah

dapat berubah

Setiap manusia adalah ciptaan tuhan, terserah bagaimana anda atau agama anda memanamai atau menyebut tuhan itu. Dan karena tuhan mustahil memiliki sifat yang bertentangan dalam dirinya, maka pasti mustahil pula menciptakan manusia yang di dalam dirinya ada sifat bertentangan.

Sifat dasar yang orisinil dari tuhan inilah yang disebut FITRAH. Yaitu sejatinya DIRI atau DIRI yang asli. Sifat yang asli dari tuhan itu tak mungkin memiliki sifat-sifat buruk seperti benci, dendam,bohong, marah, pengecut, kikir, sombong dan sebagainya. Karena sifat-sifat seperti itu bertentangan dengan sifat-sifat Tuhan.

Nah, pertanyaannya bagaimana sifat-sifat lainya itu muncul dalam diri manusia? sifat-sifat itu muncul dari cara seseorang menpersepsi dan merespon lingkungan sekitar. dari situlah muncul sifat lainnya bisa sifat yang baik atau sifat yang buruk.

Itu semua bisa muncul dari DIRI yang di definisikan adalah kacamata yang kita gunakan untuk melihat, menyadari dan merespon lingkungan sekitar kita. Maka dari itulah setiap DIRI manusia berbeda karena mempunyai respon yang berbeda pula. Jadi bukan fitrah manusia yang berbeda tetapi dirinya.

Di dalam hidup ini ada dua jenis kehidupan yaitu kehidupan nyata yang kita lakoni setiap saat dan kehidupan semu yang seperti dalam film. Kehidupan semu di dalam film akan semakin terang gambarnya ketika bioskop di gelapkan. Namun sebaliknya dalam kehidupan nyata, semakin terang ruang maka semakin nampak jelas seluruh benda dan aktor kehidupan lainnya.

Begitu jugalah DIRI ini. Semakin gelap dia dalam timbunan sifat-sifat buruk maka semakin jelas dia melihat hal-hal semu. Sisi kebenaran yang sesungguhnya tidak mampu dia lihat, yang fakta dia anggap dusta sementara yang dusta dia sebut fakta. Dalam istilah buruk wajah cermin di belah.

Kalau penguasa menggunakan kacamata seperti ini, dia akan menjadi tiran dan otoriter. Kalu konglomerat dia akan menjadi penipu kelas kakap. Kalu politisi dia akan menjadi pembohong, kalu birokrat dia akan menjadi koruptor, kalau rohaniawan dia akan menjual agama dengan prinsip-prinsipnya. Kalau rakyat biasa, dia akan menjadi rakus dan tamak. Coba bayangkan jika suatu bangsa di isi orang-orang seperti ini. Krisis ekonomi hanyalah akibat bukan sebab.

Keadaan apapun pasti dapat dirubah dan berubah. Pembusukan dapat di kelola dengan baik akan menjadi pupuk yang menyuburkan. Yang di butuhkan adalah kelapangan dada untuk jujur kepada diri sendiri. Karena jika tak mampu jujur pada diri sendiri bagaimana kita mampu jujur kepada orang lain dan kepada TUHAN. Kejujuran adalah persyaratan utama untuk kembali menemukan FITRAH yang telah hilang. Sombong, tamak, kikir, bohong, pengecut, rakus, dendam bukan bagian dari FITRAH kita sebagai manusia.

Article by : Hendro Prayitno

31 Komentar