
Yang namanya topeng itu pasti palsu, anda bisa bayangkan jika hidup anda memakai topeng itu berarti diri anda adalah palsu. Dan bayangkan jika topengnya palsu, berarti anda benar-benar palsu.
Artikel ini mengajak anda untuk membuka topeng anda, dan jangan pernah melanjutkan membaca jika anda tidak ingin membuka topeng anda. Artikel ini pun akan mengajak anda untuk berpikir tentang diri anda sendiri bukan tentang orang lain.
Sebelum melanjutkan atau anda ingin menghentikan membaca artikel ini cobalah renungkan sedikit saja apakah anda sekarang memakai topeng? tentu tidak, kecuali anda seorang badut yang lucu, atau anda ingin menghadiri pesta topeng.
Ketika kita berkata “Inilah aku : inilah pikiranku, inilah pilihanku, inilah agamaku,…” Sebetulnya sama saja hakikatnya jika kita berkata “Inilah moyangku : Inilah pikiran keluargaku, inilah pilihan lingkunganku, inilah agama moyangku,…”Aku’ yang berasal dari diri kita sebenarnya tidak ada di sana. Semuanya hanyalah topeng yang digunakan pihak-pihak luar, pihak eksternal kedalam diri kita. Dan hebatnya lagi kita berani mati jika ada yang melecehkan topeng-topeng tersebut.
Cobalah perhatikan secara seksama perkelahian-perkelahian atau benturan-benturan antar kelompok, antar suku, antar bangsa dan antar agama. Apa betul mereka yang terlibat di dalamnya karena perintah atau karena nalurinya? Kebanyakan mereka terlibat bukan membela ‘DIRI-ku’ tapi membela ‘KELOMPOK-ku’. Kelompok ini bisa diberi label apa saja mulai dari fakultas, suku, bangsa, sampai agama.
Seperti filosofi yang mengutip “Mereka yang ikut berperang sebenarnya adalah orang-orang yang tidak berperang demi mereka yang berperang, tetapi demi yang tidak ikut berperang”. Hebatnya lagi, prinsip yang di benarkan oleh ajaran nasionalisme yang sempit dan mengatakan : “Right or wrong is my country” [benar atau salah kalau itu negriku maka harus di bela].
Ajaran ini sama dengan ajaran yang di anut geng-geng preman. Setiap anggota geng wajib membela harkat dan martabat gengnya apabila ada anggota geng lain yang melecehkannya. Coba anda renungkan : apa benar suku dan agama tidak menganut ajaran ini? jika ia, lantas apa perbedaan antara suku, agama dan geng? inipun sama seperti manusia yang hanya menjadi KELOMPOK lain atau ORANG lain, ada yang berambut gondrong kita ikutan berambut gondrong, ada yang menari kitapun ikut menari, bahkan ada yang rela mati kitapun ikut-ikutan mati.
Hal itu terjadi karena kita nyaris tidak pernah bertindak berdasarkan dorongan NALURI kita. Kita selalu bertindak berdasarkan topeng-topeng kepalsuan yang kita kenakan selama bertahun-tahun. Akibatnya hampir seluruh tindakan kita hanyalah kumpulan kepalsuan-kepalsuan. Dan kepalsuan akan susah berdamai dengan sesamanya. Jika kepalsuan bertemu maka bahasa yang di gunakan adalah KEBOHONGAN.
Anda tidak suka boy bands tetapi anda berusaha untuk suka, anda juga tidak suka musik rock tetapi karena teman dan kekasih anda suka maka anda akan berusaha untuk suka musik tersebut, atau anda seorang blogger yang mempermainkan judul dengan menghina agama padahal isinya tidak demikian anda hanya mengharapkan pengunjung yang besar. Dalam hal ini anda sudah memakai topeng, dan anda bisa dikatakan seorang pecundang sejati.
Sekarang kita tanya siapakah Susilo itu? Mungkin anda mengacungkan tangan. Itu bukan Susilo; itu tanganya Susilo. Kalau begitu siapakah Susilo itu? Anda menunjuk dada Anda. Itupun bukan Susilo; itu dada-nya Susilo. Anda menunjuk kepala anda. Itu juga bukan Susilo; itu kepalanya Susilo. Lalu siapakah sebenarnya Susilo itu? Anda berteriak “saya”, itu juga pasti bukan Susilo; itu pengakuan Susilo.
Kendatipun Susilo tidak punya tangan untuk diacungkan, ia tetaplah Susilo yang utuh. Seandainya presiden Soekarno kehilangan suaranya sehabis membaca teks proklamasi di karenakan gangguan pada pita suaranya. Ia tetaplah seorang proklamator.
Sekarang siapakah DIRI anda? cobalah pejamkan mata sejenak dan mencoba mengingat apa yang anda lakukan pada masa lalu dan yang akan anda lakukan pada saat ini. Apakah anda menggunakan topeng? atau anda bisa bertanya pada diri anda sendiri “Siapakah aku sebenarnya”
who I am…. ??
Tak Merem bantar Mas…
wah kok belum nemu jawabannya ya.. :bingung
hehehe,,masa sih bingung sama diri sendiri.
Saya malah mikirnya kok bisa se ada saya.. kok bisa se.. saya ada disini.. mengapa gak disana…
Untuk saat ini saya sudah lepas topeng.. kadang2 juga pakai topeng kalau ada masalah.. diluar tertawa didalam sedih… kayak sponsor di TV… mungkin masih butuh banyak pengalaman seperti ini..
jadi kesimpulannya klo saya suka musik rock ya emang suka mas hahaha…
btw apa saya pke topeng ya hmmm…
wah, ini tulisan yang sangat super!!! lebih super dari Mario Teguh…
saya baca tulisan ini 5 menit dan anda sudah membuat saya terkagum-kagum…
Super Sekali
Yach, intinya bersikap dan bertindak apa adanya. Tapi nggak jarang, kita dihalangi oleh rasa SUNGKAN, sehingga apa ynag keluar adalah sesuatu yang bukan diri kita sebenarnya. Misalnya saja demi menyenangkan orang lain, kita berpura-pura atau berusaha bersikap semanis mungkin, padahal di dalam hati yang terdalam, kita ingin lebih jujur dan berterus terang.
Mungkin setelah mempunyai hubungan emosional yang lebih dekat, baru kepribadian asli kita bisa muncul dengan sendirinya atau memang kita sengaja. Ini wajar sekali kok, mengingat manusia punya apa yang dinamakan sebagai “comfort-zone” (zona kenyamanan) ketika berinteraksi dengan sesamanya.
Contoh saja, bang Hendro mungkin akan merasa lebih nyaman menggunakan kata “gua” untuk berkomunikasi dengan orang yang secara emosional sudah agak dekat dengan bang Hendro. Nah, apakah bang Hendro juga merasa nyaman menggunakan kata “gua” ketika berkomunikasi dengan orang yang secara emoosional/kedekatan masih belum begitu dekat? Atau bis jadi merasa sudah dekat, tapi mungkin saja bang Hendro lebih merasa nyaman menggunakan kata “saya” atau “aku”.
Jadi, ada tingkat kenyamanan tersendiri atau tingkat kenyamanan berbeda ketika dalam hal komunikasi saja. Ini cuma salah satu contoh.
Klo yang mas IS paparkan adalah di lihat dari segi komunikasi [social budaya] yaitu konteks dan konten. Sebenarnya artikel ini bukan itu maksudnya. Klo komunkasi itu adalah konteks dan konten.
“manusia selain ingin mendengar juga ingin di dengar. Selain ingin memahami juga ingin di pahami, selain ingin mencintai juga ingin di cintai. Manusia adalah mahluk [two ways communications] komunikasi dua arah”.
seperti itu,,namun artikel ini membahas diri kita sendiri, bukan masalah komunikasi atau kenyamanan. Tapi membahas apakah yang kita lakukan sesuai naluri kita. Misal saja saya mau menghormati orang jawa dengan bicara aku, memang sebagian uang tak nyaman tetapi mengikuti naluri sebagai manusia yaitu saling menghormati. Bukan berusaha tapi itu memang dari naluri kita sebagai manusia.
Misal juga fakultas kita di serang apakah kita akan melawan penyerangan itu? jika ia, apa kenapa kita harus melawan? klo cuma membela fakultas dan kelompok. berarti masih menggunakan topeng. Namun jika kita sadar klo saja fakultas kita tidak di bela maka kita akan belajar di mana?
Jadi naluri yang berbicara.
Oh, begitu maksudnya. Baru saya ngerti bang. Berarti memakai topeng bisa juga diartikan bahwa kita masih suka bersembunyi di balik identitas di luar diri kita kalau begitu. Sip deh.
Hmm.. kalo membahas tentang bertanya dengan Diri sendiri atau Tentang Naluri gini, rasanya sedikit sulit tuk dijawab secara spontan neh!!. Jawabannya itu relative ada di masing2 Individu, kalo Ayas sendiri masih sering memakai Topeng tuh Bang. ( Ini jawaban “topeng” ato “naluri” yach? )
Hmm.. rumit!!! Hweehehe…
Sebenarnya siapakah diri saya yang sebenarnya?
#Sambil memejamkan mata, dan mencoba untuk rileks.
Dan dalam hitungan 1,2,3 anda harus terlelap.
wahh aku g pake topeng tp emang nuka’ku kyk gini hehehehehee
Sedang berusaha memahami diri saya sendiri…
Saya kadang juga masih memakai topeng,hehe
Semoga saja kita bisa makin berani berdamai dengan nurani kita.
siapa saya?belum ketemu jawabannya bang masih nyari jati diri
btw kalo yang misterius itu admin terselubung bang gkgkgk
tulisan anda mengingatkan saya pada pemahaman tentang SANGKAN PARANANING DUMADI..awal dan akhir sebuah kehidupan…darimana anda berasal dan kemana anda akan pergi…kalau membaca konsep anda disitu saya sebenarnya TIDAK ADA..SEMUA HANYA TITIPAN..kita dititpkan kedunia..apa yang kita pakai adalah pinjaman..tubuh-pun kita tidak memiliki..yang ada hanya rasa…rasa memiliki dan rasa-rasa yang lain..DEMIKIAN ISI PIDATO SAYA HARI INI..hehehehe
kepalsuan atau kebohongan akan menyiksa diri kita sendiri
dan berdampak hilang’y rasa percaya dari orang lain
intinya be yourself :D
Hwo I’m..?? Mungkin saya newbie permanen atau Anonimous Permanen yang sembunyi di balik topeng kepalsuan Anonimous, Meski saya tahu kalau saya masih meninggalkan jejak berupa Identitas yang bisa dilacak oleh orang banyak. Saya hobby download file Ilegal dan upload file ilegal meskipun mengunakan profider seada-nya (Modem colok super lemot), Saya mungkin cukup mengenal admin blog ini tapi saya masih ragu, sungkan, dan Malu untuk bertanya, Belajar dan bertukar pikiran dengan anda kerena keterbatasan yang saya miliki. Saya Mengenal Diri saya sendiri cukup baik dari orang lain mengenal saya. Loh kok malah OOT dan curhat gini piyeeee…
udah terlanjur nulis panjang lebar kirim aja deh..
Salam 2 jari (telunjuk dan tengah) buat bang amdhas (Mr. Hendro Prayitno).
Hidup apa adanya memang sangat sulit, tapi beruasahalah untuk menghindari kebohongan. Karena kebohongan sampai kapanpun tidak akan dapat mengalahkan kejujuran …
Jadi bingung juga habis baca artikel amdhas, realitanya memang banyak yang pake topeng. tp mungkin lebih bijak tergantung cara menempatkannya kali. mana mungkin misal ane lagi sedih, terus hal ditampakan didepan anak2. ane harus menularkan hal2 positip didepan mereka walau saat itu hati lagi berduka he he :)